Posts filed under ‘Book Review’

Jenderal Tak Jadi: Eksperimen Militer ala Sumatera

Judul: Giyugun: Cikal-bakal Tentara Nasional di Sumatera
Penulis: Mestika Zed
Pengantar: Aiko Kurasawa
Penerbit: LP3ES
Cetakan: I, Agustus 2005
Tebal: 243 halaman + xxii

IDENTITAS formal tentara Indonesia muncul pada masa Revolusi 1945-1950. Banyak unsur yang bergabung menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), salah satunya Giyugun Sumatera. Sayangnya, peran dan pengalaman mereka cenderung diabaikan dalam historiografi militer Indonesia.

Kajian tentang tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) cukup banyak, tapi kajian berupa biografi kolektif mengenai Giyugun Sumatera masih langka. Padahal Giyugun Sumatera adalah “kembaran” PETA. Keduanya dibentuk oleh sebuah keputusan yang sama tapi berdiri secara terpisah.

Giyugun Sumatera adalah pasukan sukarela yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang pada 1943. Pasukan itu dilatih untuk membantu Jepang menghadapi tentara Sekutu yang hendak menyerbu dan merebut Indonesia.

Sejarawan Universitas Negeri Padang, Dr Mestika Zed, mencoba menganalisis peran para mantan perwira Giyugun Sumatera dalam bukunya ini. Berbentuk kajian prosografis (biografi kolektif), Mestika mengungkapkan betapa para perwira Giyugun memainkan peran utama sebagai tulang punggung kekuatan bersenjata Republik di Sumatera. Tapi mengapa peran mereka hanya terdengar “sayup-sayup sampai” dalam sejarah militer Indonesia?

Penulis kata pengantar, Aiko Kurasawa, Indonesianis dan guru besar Fakultas Ekonomi di Universitas Keio, Jepang, memberikan jawabannya: “Sejarah nasional Indonesia yang ditulis oleh sebagian besar peneliti sejarah cenderung ke Jawasentris.” (halaman xv).

Bukan hanya dari sisi metodologis, faktor Jawasentris pun ditengarai mempengaruhi watak militer Indonesia. Menurut Peter Britton (1996),”Dominasi Jawa, baik dari jumlah maupun budaya, kurang mendukung iklim profesionalisme militer Indonesia…. Dari mana pun asalnya dan apa pun agamanya, personel militer Indonesia tampak tidak punya pilihan selain menerima hegemoni budaya priyayi Jawa.”

Hampir semua literatur selalu menyebut tiga unsur utama yang menjadi cikal bakal TNI: kelompok KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger) binaan Belanda, mantan perwira PETA, dan beberapa kelompok pemuda. “Ketiga jalur cikal bakal TNI itu memang tepat bila dipakai untuk membedah kasus Jawa, tapi akan menyesatkan bila dipergunakan untuk menelaah kasus lain, misalnya Sumatera,” Mestika menuliskan (halaman 3).

Menurut master dan doktor ilmu sejarah lulusan Vrije Universiteit Belanda ini, kajian yang melulu terpusat pada unsur kejawaan dan menafikan unsur (Indonesia) lain pasti akan menyulitkan kita memahami sejarah militer Indonesia secara komprehensif.

Masa pendudukan Jepang (1942-1945) sering kali dianggap sebagai zaman krisis penuh ketidakpastian, tapi sekaligus membuka banyak kesempatan bagi yang mau memanfaatkannya.

Di sinilah arti penting keberadaan Giyugun. Inilah satu-satunya wadah bagi orang Sumatera untuk pertama kali mengenyam pelatihan militer. Berbeda dengan kelompok etnis Jawa, Madura, Manado, Bugis, Timor, dan Ambon, sebagian besar orang Sumatra nyaris tidak mengenal dunia ketentaraan profesional, kecuali mereka yang secara individual mendaftar masuk KNIL di Jawa.

Umumnya mereka bergabung dengan Giyugun yang berasal dari kalangan terpelajar dan terpandang. Orang Sumatera, khususnya kelompok etnis Minangkabau, memasuki dunia ketentaraan, “…lebih didorong oleh perhitungan keselamatan” (halaman 184) dan kesempatan merintis lembaga militer profesional.

Sebagai organisasi sekaligus profesi, Giyugun merupakan elite strategis yang khas dan relatif baru dalam sejarah Sumatera. Orang Sumatera sendiri tidak punya tradisi militer yang kuat, kecuali Aceh.

Namun, ada yang khas dari personel-personel Giyugun Sumatera: sebagai elite militer, mereka tidak punya kompetitor. Itu yang membedakan mereka dengan perwira-perwira PETA Jawa dan bekas KNIL yang kemudian bersaing merebut kursi kepemimpinan militer pada awal Proklamasi Kemerdekaan. Hal itu tidak terjadi di Sumatera. Sejak perang kemerdekaan hingga 1950-an, posisi kunci di Sumatera dipegang oleh perwira bekas Giyugun.

Namun, “kemewahan” itu tak berlangsung lama. Dalam perjalanan berikutnya, kelompok perwira bekas Giyugun Sumatera ini mulai dipinggirkan. Setidak-tidaknya tercatat dua kali mereka dikecewakan. Pertama, ketika pemerintah pusat memberlakukan kebijakan reorganisasi-rasionalisasi (Rera) secara sepihak pada 1948.

Kedua, ketika pemerintah pusat menyerbu mereka menyusul pemberontakan PRRI pada 1958. Para kolonel yang notabene perwira-perwira bekas Giyugun itu akhirnya membangkang kepada pusat yang terlalu condong pada komunis. Manuver ini akhirnya menyulut api pemberontakan yang meluas di Sumatera.

Peristiwa itu menamatkan karier militer mereka selama-lamanya. Mereka kehilangan kesempatan meraih pangkat tertinggi: jenderal bintang empat.

Itulah eksperimen militer ala Sumatera: episode “almamater” para jenderal tak jadi. Muncul sesaat, lalu hilang tak membekas. Dan peneliti sejarah militer Indonesia pun ikut menguburnya dalam-dalam, hingga kini. l BUDI PUTRA

Sumber: Koran Tempo, 19 Februari 2006

March 1, 2006 at 12:12 pm 1 comment


Calendar

August 2014
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.